Ketika AI Masuk Sekolah, Kepala Sekolah
dan Pengawas
Tak Bisa Tetap Biasa
Dr. Ninik
Kristiani, M.Pd.
Pengawas
Sekolah, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang (Kota Malang–Kota Batu)
Di sekolah-sekolah binaan Cabang Dinas Pendidikan
Wilayah Malang yang meliputi Kota Malang dan Kota Batu sebanyak 11 sekolah,
implementasi artificial intelligence (AI) mulai disikapi sebagai bagian dari
transformasi pembelajaran yang perlu diarahkan secara hati-hati. Di lapangan,
kepala sekolah dan guru tidak selalu menyambutnya dengan kesiapan yang sama.
Ada yang antusias karena melihat peluang efisiensi dan kreativitas, tetapi ada
pula yang ragu karena literasi digital guru belum merata, sarana belum sama,
dan batas antara bantuan teknologi dengan ketergantungan belum selalu dipahami.
Dalam situasi inilah pengawas sekolah perlu hadir bukan sekadar mengenalkan
teknologi, melainkan memastikan bahwa AI benar-benar membantu mutu
pembelajaran.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui KOMPAS
Co-Design, singkatan dari Kolaborasi Optimasi Mutu Pembelajaran berbasis
Aspirasi Siswa. Pendekatan ini dipilih karena perubahan pembelajaran tidak
cukup digerakkan melalui rapat, arahan, atau administrasi semata. Perubahan
perlu masuk ke kelas, mendengar suara murid, melibatkan guru dan kepala
sekolah, lalu diuji melalui langkah sederhana yang dapat dibuktikan hasilnya.
Melalui KOMPAS Co-Design, pendampingan dimulai dari satu siklus kecil: satu
kelas, satu guru, dan satu masalah prioritas dalam rentang dua sampai empat
minggu.
Dalam pelaksanaannya, pengawas sekolah, kepala
sekolah, guru, tim manajemen, dan murid duduk bersama untuk membaca data awal,
menentukan fokus, lalu menyepakati satu sampai dua strategi yang realistis.
Dalam konteks AI, strategi itu dapat berupa penggunaan AI untuk menyusun
variasi soal, merancang ringkasan materi, atau menyiapkan umpan balik lebih
cepat, tanpa menghilangkan peran guru sebagai perancang pembelajaran. Titik
berangkatnya tetap suara murid, sebab dari pengalaman merekalah sekolah dapat
mengetahui apa yang membantu belajar dan apa yang justru membingungkan.
Pendampingan di sekolah binaan menunjukkan bahwa
kepala sekolah tidak perlu tergesa-gesa mengadopsi semua hal baru. Yang lebih
penting ialah membangun tata kelola: siapa yang terlibat, kapan uji coba
dilakukan, bukti apa yang dikumpulkan, dan bagaimana refleksi dijalankan. Guru
pun tidak diminta memakai AI untuk semua kebutuhan, melainkan mencoba satu
perubahan yang jelas dan mudah dipantau. Dari sana dikumpulkan bukti sederhana,
seperti hasil kerja murid, asesmen formatif, catatan observasi, dan refleksi guru.
Melalui cara ini, pengawas sekolah tidak lagi
berhenti pada pemeriksaan perangkat, tetapi menjadi fasilitator mutu yang
membantu sekolah menjaga arah. Kepala sekolah memperkuatnya melalui supervisi
yang selaras, umpan balik yang dapat ditindaklanjuti, serta keberanian
memastikan bahwa hasil forum benar-benar diterapkan di kelas. Pada akhirnya,
keberhasilan implementasi AI di sekolah tidak ditentukan oleh seberapa cepat
teknologi diadopsi, melainkan oleh seberapa bijak sekolah mengarahkannya bagi
mutu belajar murid. Di sekolah-sekolah binaan Kota Malang dan Kota Batu, KOMPAS
Co-Design menjadi sarana pendampingan yang membantu sekolah bergerak lebih
tenang, terukur, dan tetap berpihak pada pembelajaran yang memanusiakan murid
secara kontekstual, bertahap, dan berbasis kebutuhan nyata.
|
|
|
|